1. Sejarah dan Definisi Benchmarking
Secara singkat dapat dikatakan bahwa pada
mulanya konsep benchmarking berkembang di bidang perindustrian. Awal tahun
1950-an banyak pengusaha Jepang mengunjungi beberapa perusahan di Amerika
Serikat dan negara-negara Eropa barat. Tujuan kunjungan mereka adalah berusaha
mendapatkan dua masukan, yaitu teknologi dan penerapan bisnis atau praktik
baik. Masukan itu dikemas dalam bentuk perjanjian kerja. Dari tahun 1952 hingga
tahun 1984 tidak kurang dari 42.000 perjanjian kerja telah ditandatangani.
Hampir semua perjanjian itu berkisar tentang alih teknologi terbaik dan “segala
sesuatu” (know-how) yang dimiliki negara barat. Jepang menggunakan proses
“mengambil dan memanfaatkan” untuk kemajuan industrinya. Pada tahun 1960-an
industri-industri Jepang telah menyamai industri-industri barat. Keberhasilan
Jepang dalam menggunakan teknologi barat untuk melakukan benchmarking terhadap
kinerja mereka sendiri, merupakan bukti reputasi mereka di dalam kancah
perdagangan.
Istilah benchmarking baru muncul pada permulaan
tahun 1980-an dan menjadi trend dalam manajemen sebagai alat untuk meningkatkan
kinerja perusahaan pada tahun 1990-an. Bahkan pada tahun 1990 separuh dari
perusahaan-perusahaan yang termasuk dalam Fortune 500 menggunakan teknik
benchmarking. Benchmarking adalah pendekatan yang secara terus menerus mengukur
dan membandingkan produk barang dan jasa, dan proses - proses dan
praktik-praktiknya terhadap standar ketat yang ditetapkan oleh para pesaing
atau mereka yang dianggap unggul dalam bidang tersebut. Benchmarking sebagai
tolak ukur dalam suatu perusahaan Benchmarking adalah suatu proses yang biasa
digunakan dalam manajemen atau umumnya manajemen strategis, dimana suatu
unit/bagian/organisasi mengukur dan membandingkan kinerjanya terhadap aktivitas
atau kegiatan serupa unit/bagian/organisasi lain yang sejenis baik secara
internal maupun eksternal. Dari hasil benchmarking, suatu
organisasi dapat memperoleh gambaran dalam (insight) mengenai kondisi
kinerja organisasi sehingga dapat mengadopsi best practice untuk meraih sasaran
yang diinginkan
Hal yang sangat penting dan bernilai manfaat
tinggi dalam benchmarking adalah bahwa dengan aktivitas ini memungkinkan
korporasi untuk melihat jauh ke depan melampaui paradigma berfikir terkait
dengan kinerja proses bisnis. Dengan melakukan benchmark terhadap perusahaan
lain, korporasi dapat secara nyata meningkatkan kesesuaian solusi masa depan
terhadap permasalahan saat ini. Dengan proses benchmark, korporasi dapat
melakukan loncatan kuantum dalam kinerja dengan terjadinya penurunan waktu siklus
belajar dan penetapan tujuan manajemen yang baru berdasar pada pengalaman dan
praktek baik yang ada pada perusahaan pesaing yang diakui terbaik dalam
bidangnya. Benchmarking adalah alat bantu untuk memperbaiki kualitas dengan
aliansi antar partner untuk berbagi informasi dalam proses dan pengkuruan yang
akan menstimulasi praktek inovatif dan pemperbaiki kinerja. Dalam aktivitas ini
akan dapat ditemukan dan diterapkan praktek terbaik yang mempercepat laju
perbaikan dengan memberikan model nyata dan merealisasikan perbaikan tujuan;
sehingga praktek baik ini akan mendorong proses yang bersifat positif,
proaktif, terstruktur yang mempengaruhi perubahan operasi organisasi. Dengan
benchmarking, korporasi melakukan pengukuran produk, layanan, dan praktek
bisnisnya dengan membandingkan terhadap pesaing utama maupun korporasi yang
diakui sebagai pemimpin dalam bisnisnya. Untuk dapat meningkatkan kinerjanya,
korporasi perlu secara terus menerus mencari ide baru melalui metode, praktek,
proses dengan mengadopsi fitur-fitur terbaik korporasi lain untuk menjadi best
of the best.
2. Metode BenchmarkingProses benchmarking memiliki beberapa metode. Salah satu
metode yang paling terkenal dan banyak diadopsi oleh organisasi adalah metode
12, yang diperkenalkan oleh Robert Camp, dalam bukunya The
search for industry best practices that lead to superior performance.
Productivity Press .1989.Langkah metode 12 terlalu luas untuk dijabarkan. Agar
mudah, metode 12 tersebut bias diringkas menjadi 6 bagian utama yakni :
- Identifikasi problem apa yang hendak dijadikan
subyek. Bisa berupa proses, fungsi, output dsb.
- Identifikasi industri/organisasi/lembaga yang
memiliki aktifitas/usaha serupa. Sebagai contoh, jika anda menginginkan
mengendalikan turnover karyawan sukarela di perusahaan, carilah
perusahaan-perusahaan sejenis yang memiliki informasi turnover karyawan
sukarela.
- Identifikasi industri yang menjadi
pemimpin/leader di bidang usaha serupa. Anda bisa melihat didalam asosiasi industri,
survey, customer, majalah finansial yang mana industri yang menjadi top leader
di bidang sejenis.
- Lakukan survey pada industri untuk pengukuran
dan praktek yang dilakukan.Anda bisa menggunakan survey kuantitatif atau
kualitatif untuk mendapatkan data dan informasi yang relevan sesuai problem
yang diidentifikasi di langkah awal.
- Kunjungi ’best practice’ perusahaan untuk
mengidentifikasi area kunci praktek usaha. Beberapa perusahaan
biasanya rela bertukar informasi dalam suatu konsorsium dan membagi hasilnya
didalam konsorsium tersebut.
- Implementasikan praktek bisnis yang baru dan
sudah diperbaiki prosesnya. Setelah mendapatkan best practice
perusahaan, dan mendapatkan metode/teknik cara pengelolaannya, lakukan proyek
peningkatan kinerja dan laksanakan program aksi untuk implementasinya.
3. Mamfaat benchmarkBeberapa
manfaat benchmark adalah:
- memperbaiki proses kritis yang ada dalam bisnis
- memantapkan tujuan yang berorientasi pada
pelanggan
- menumbuhkan antusias staf dengan melihat yang
terbaik
- mengidentifikasi peluang-peluang baru yang
terkadang muncul setelah membandingkan.
- menjadi lebih berdaya saing.
- memperpendek siklus perbaikan proses bisnis
dengan percepatan pembelajaran
Secara umum manfaat yang diperoleh dari benchmarking dapat
dikelompokkan menjadi (Ross, 1994 pp.239-240) :
- Perubahan Budaya, Memungkinkan perusahaan untuk
menetapkan target kinerja baru yang realisitis berperan menyakinkan setiap
orang dalam organisasi dan kredibilitas target.
- Perbaikan Kinerja Membantu perusahan mengetahui
adanya gap-gap tertentu dalam kinerja dan untuk memilih proses yang akan
diperbaiki.
- Peningkatan kemampuan sumber daya manusia
memberikan dasar bagi pelatihan Karyawan menyadari adanya gap antara yang
mereka kerjakan dengan apa yang dikerjakan karyawan lain diperusahaan lain.
Keterlibatan karyawan dalam memecahkan permasalahan sehingga karyawan mengalami
peningkatan kemampuan dan keterampilan
Untuk dapat melakukan benchmarking yang
berhasil, manajemen hendaknya memahami terlebih dahulu proses-proses yang
dimiliki. Beberapa hal yang penting diperhatikan adalah:
- manajemen melakukan pemetaan proses untuk
mendefinisikan proses yang ada, termasuk top-down flowcharts, wall
maps, product process maps atau value-added flow analysis,
- mengidentifikasi harapan pelanggan terhadap proses
yang dimiliki dengan cara mereviu pengukuran kinerja proses yang ada
dibandingkan dengan harapan pelanggan,
- mendefinisikan kinerja proses,
- menggunakan teknik analisis tertentu untuk
memahami sebab-sebab inefisiensi dalam proses (beberapa teknik seperti
cause-effect diagram, Pareto diagram, dan control charts,
- mengidentifikasi target benchmark berbasis
analisis kinerja pesaing, dan harapan pelanggan.
Beberapa sumber juga menyebutkan defenisi dari benchmarking
itu adalah:
Benchmarking dipadankan dengan Patok Duga.
Secara singkat ia dapat diartikan sebagai “process that compares your business
activities to similar companies”(www.bhpinfosolutions.co.uk). Maksudnya, sebuah
perusahaan akan ‘mematok’ perusahaan lain yang mereka anggap sebagai pesaing terberat,
lalu bila dibandingkan, ‘menduga’ perusahaan mereka berada pada posisi apa
(Tjiptono & Diana, 2003: 232).
Istilah benchmarking selanjutnya dapat didefinisikan dengan
berbagai pengertian, seperti halnya:
- Ensiklopedi Wikipedia mendefinisikannya dengan
“the process of comparing the cost, cycle time, productivity, or quality of a
specific process or method to another that is widely considered to be an
industry standard or best practice” (http://en.wikipedia.org/wiki/Benchmarking).
- David Kearns (CEO dari Xerox) menyatakan bahwa
benchmarking adalah suatu proses pengukuran terus-menerus atas produk, jasa dan
tata cara kita terhadap pesaing kita yang terkuat atau badan usaha lain yang
dikenal sebagai yang terbaik.
- Goetsch dan Davis mendefinisikannya sebagai
proses pembanding dan pengukuran operasi atau proses internal organisasi
terhadap mereka yang terbaik dalam kelasnya, baik dari dalam maupun dari luar
industri (Tjiptono & Diana, 2003: 232-233; Yamit, 2002: 134).
Berbagai pengertian diatas jika dicermati
memiliki banyak persamaan, yakni bahwa tujuan utama patok duga adalah untuk
menemukan kunci atau rahasia sukses dan kemudian mengadaptasi dan
memperbaikinya agar dapat diterapkan pada perusahan yang melaksanakan patok
duga tersebut. Benchmarking merupakan proses belajar yang berlangsung secara
sistematis, terus menerus, dan terbuka. Berbeda dengan penjiplakan
(copywriting) yang dilakukan secara diam-diam, kegiatan patokduga merupakan
tindakan legal dan tidak melanggar hukum. Dalam dunia bisnis modern meniru
dianggap sah asal tidak dilakukan secara langsung dan mentah-mentah.
Benchmarking memang dapat diartikan sebagai meniru dari paling hebat untuk
membuatnya sebagai referensi (Yamit, 2002: 134). Kegiatan ini dilandasi oleh
kerjasama antar dua buah institusi (perusahaan) untuk saling menukar informasi
dan pengalaman yang sama-sama dibutuhkan.
Dari berbagai definisi diatas menurut Tjiptono (2003: 234)
juga dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu :
- Benchmarking merupakan kiat untuk mengetahui
tentang bagaimana dan mengapa suatu perusahaan yang memimpin dalam suatu
industri dapat melaksanakan tugas-tugasnya secara lebih baik dibandingkan
dengan yang lainnya.
- Fokus dari kegiatan benchmarking diarahkan pada
praktik terbaik dari perusahan lainnya. Ruang lingkupnya makin diperluas yakni
dari produk dan jasa menjalar kearah proses, fungsi, kinerja organisasi,
logistik, pemasaran, dan lain-lain.
- Praktik banchmarking berlangsung secara
sistematis dan terpadu dengan praktik manajemen lainnya, misalnya TQM,
corporate reengineering, analisis pesaing, dll.
- Kegiatan patok duga perlu keterlibatan dari
semua pihak yang berkepentingan, pemilihan yang tepat tentang apa yang akan di-
benchmarking-kan, pemahaman dari organisasi itu sendiri, pemilihan mitra yang
cocok dan kemampuan untuk melaksanakan apa yang ditemukan dalam praktik bisnis.
Dalam melakukan patok duga, terdapat empat cara yang biasa digunakan, yakni:
- Riset in-house. Cara ini dilaksanakan dengan
melakukan penilaian terhadapat informasi perusahan sendiri maupun informasi
yang ada di publik. Perusahaan hanya mencari informasi mengenai hasil kinerja
perusahaan lain baik fungsi maupun prosesnya.
- Riset pihak ketiga. Cara yang ditempuh adalah
dengan membiayai kegiatan patok duga yang akan dilakukan perusahaan surveyor.
Biasaya pihak ketiga ini melakukan patok duga untuk informasi yang sulit di
dapat dari pesaing bisnis.
- Selain itu dapat pula diselenggarakan forum
diskusi panel untuk memeperoleh masukan yang luas dan banyak misalnya tentang
keinginan pelanggan.
- Pertukaran langsung. Pertukaran ini dilakukan
untuk mengawali kunjungan langsung, dan hal
tersebut dilaksanakan melalui kuesioner, survey melalui telepon, dan lainnya.
- Kunjungan langsung. Cara keempat berupa kunjungan
ke lokasi mitra patok duga. Cara yang dianggap paling
efektif ini, dilakukan dengan wawancara dan tukar informasi (Tjiptono &
Diana, 2003: 234).
4. Dasar pemikiran perlunya benchmarking
- Riset in-house. Cara ini dilaksanakan dengan melakukan penilaian terhadapat informasi perusahan sendiri maupun informasi yang ada di publik. Perusahaan hanya mencari informasi mengenai hasil kinerja perusahaan lain baik fungsi maupun prosesnya.
- Riset pihak ketiga. Cara yang ditempuh adalah dengan membiayai kegiatan patok duga yang akan dilakukan perusahaan surveyor. Biasaya pihak ketiga ini melakukan patok duga untuk informasi yang sulit di dapat dari pesaing bisnis.
- Selain itu dapat pula diselenggarakan forum diskusi panel untuk memeperoleh masukan yang luas dan banyak misalnya tentang keinginan pelanggan.
- Pertukaran langsung. Pertukaran ini dilakukan untuk mengawali kunjungan langsung, dan hal tersebut dilaksanakan melalui kuesioner, survey melalui telepon, dan lainnya.
- Kunjungan langsung. Cara keempat berupa kunjungan ke lokasi mitra patok duga. Cara yang dianggap paling efektif ini, dilakukan dengan wawancara dan tukar informasi (Tjiptono & Diana, 2003: 234).
thank you
BalasHapusTerimakasih yah 🙏
BalasHapusthank you
BalasHapusTrimkasih
BalasHapus