BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bumi adalah satu-satunya tempat untuk hidup bagi manusia dan
makhluk hidup lainnya. Di tempat ini semua tersedia untuk memenuhi kebutuhan
makhluk hidup di dalamnya. Sumber yang tersedia di bumi tersebut merupakan
sumber daya alam yang sejauh ini dimanfaatkan manusia.
Seiring perkembangan jaman, semakin berkembang pula
teknologi yang dimiliki manusia. Kehidupan manusia pun berubah dari masa
agrikultur ke era revolusi industri seperti sekarang ini. Dengan orientasi
tersebut dunia agrikultur mengalami kemunduran secara perlahan. Nilai-nilai
kehidupan manusia turut mengalami perubahan terutama mengenai masalah
lingkungan.
Para ahli lingkungan telah menemukan adanya indikasi
pemanasan secara global atau yang biasa disebut dengan Global Warming.
Hal ini salah satunya akibat berubahnya pola hidup manusia yang berorientasi ke
dunia industry, sehingga memberikan Dampak yang besar dalam masalah lingkungan
serta permukaan bumi.
Pada saat ini iklim di permukaan bumi mengalami penghangatan
yang disebabkan oleh pemanasan global akibatnya terjadi kerusakan
ekosistem global dan juga terhadap siklus hidrologi. (Bierbaum, R.M,et
al.2007). Pemanasan Global, mempunyai konsekuensi terjadinya
variabilitas iklim, dengan ditandai oleh perubahan suhu udara,
dan curah hujan, serta limpasan air (Markandya A and Aline Chiabia, 2009). Kondisi
tersebut masih berkombinasi dengan adanya pencemaran udara, pencemaran
air, sehingga mempunyai dampak yang cukup berat bagi kesehatan manusia
utamanya penyakit yang disebabkan oleh air (waterbone diseases)
B.
Rumusan masalah
Adapun
rumusan masalah dari penulisan paper ini yaitu “ Apakah ada hubungan Pemanasan
Global terhadap penyakit yang disebabkan oleh air (waterborne diseases)”.
C.
Tujuan Masalah
Untuk mengetahui Bagaimana hubungan pemanasan global dengan
penyakit yang disebabkan oleh air (waterborne diseases).
D.
Manfaat
1.
Dapat
memberikan Informasi dan dorongan kepada masyarakat dalam upaya pencegahan dan
penanggulangan Terjadi Global Warming.
2.
Sebagai
bahan masukan bagi instansi terkait dalam upaya peningkatan kesehatan
masyarakat dan lingkungan.
3.
Bagi
penulis, paper ini merupakan proses belajar memecahkan masalah secara
sistematis dan logis.
4.
Bahan
referensi yang dapat memperkaya ilmu pengetahuan dan merupakan salah satu bahan
bacaan bagi bagi mahasiswa.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pemanasan Global
1. Pengertian
pemanasan global
Pemanasan global atau Global Warming adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO)
berbagai penyakit yang timbul diindetifikasikan terkait dengan perubahan
lingkungan yang drastis, kerusakan hutan, perusakan kota, pembukaan lahan untuk
pertanian, pertambangan, serta kerusakan ekosistem. Dampak yang ditimbulkan
oleh pemanasan global ada yang langsung terjadi dan ada yang tidak langsung
terjadi. Sebagai negara tropis, Indonesia akan mudah mengalami peningkatan
munculnya berbagai penyakit, dalam hal ini pemerintah perlu membuat perencanaan
strategis yang bisa memberi pencegahan terhadap dampak pemanasan global dari
aspek kesehatan manusia.
Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat
0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F)
selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa,
"sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad
ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas
rumah kaca akibat
aktivitas manusia". Melalui efek
rumah kaca.
Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan
akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih
terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa
kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.
Model
iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global
akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun
1990 dan 2100. Perbedaan angka perkiraan
itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas
rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang
berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100,
pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama
lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil. Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.
Meningkatnya
suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti
naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang
ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan
global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai
jenis hewan.
2.
Penyebab pemanasan global
2.1 Efek
rumah kaca
Segala
sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar
energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya
tampak.
Ketika energi ini tiba permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas
yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan
menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas
ini berwujud radiasi infra
merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian
panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas
rumah kaca antara lain uap
air, karbon
dioksida, dan metana yang
menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan
kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut
akan tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga
mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus
meningkat.
Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana gas dalam rumah
kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di
atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.
Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk
hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini
akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15 °C
(59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F)dari
temperaturnya semula, jika tidak ada efek rumah kaca
suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi.
Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer,
akan mengakibatkan pemanasan global.
2.2
Efek umpan balik
Penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh
berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada
penguapan air. Pada kasus
pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada
awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena
uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan
menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu kesetimbangan
konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan
oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan
air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir
konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat). Umpan balik ini hanya berdampak secara
perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer.
Efek umpan balik karena pengaruh awan sedang
menjadi objek penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan
memantulkan kembali radiasi infra merah ke permukaan, sehingga akan
meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut
akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga
meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya menghasilkan pemanasan
atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail tertentu seperti tipe
dan ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini sulit direpresentasikan dalam
model iklim, antara lain karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan
jarak antara batas-batas komputasional dalam model iklim (sekitar 125 hingga
500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat).
Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua bila dibandingkan
dengan umpan balik uap air dan dianggap positif (menambah pemanasan) dalam
semua model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat.
Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya
kemampuan memantulkan cahaya (albedo) oleh es. Ketika temperatur global meningkat, es yang berada
di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersamaan dengan
melelehnya es tersebut, daratan atau air di bawahnya akan terbuka. Baik daratan
maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila
dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi
Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es
yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan.
Umpan balik positif akibat terlepasnya CO2 dan
CH4 dari melunaknya tanah beku (permafrost) adalah
mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan. Selain itu, es yang
meleleh juga akan melepas CH4 yang juga menimbulkan umpan balik positif.
Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang
bila ia menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunya tingkat nutrien pada
zona mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan diatom dari pada fitoplankton yang merupakan penyerap
karbon yang rendah.
3. Variasi Matahari
Variasi Matahari selama 30 tahun terakhir.
Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari
Matahari, dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat
memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini. Perbedaan
antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah
meningkatnya aktivitas Matahari akan memanaskan stratosfer sebaliknya
efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian
bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960, yang
tidak akan terjadi bila aktivitas Matahari menjadi kontributor utama pemanasan
saat ini. (Penipisan lapisan
ozon juga dapat memberikan efek pendinginan tersebut
tetapi penipisan tersebut terjadi mulai akhir tahun 1970-an.) Fenomena variasi
Matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan
efek pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun 1950, serta efek pendinginan
sejak tahun 1950.
Ada
beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi Matahari mungkin
telah diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuan dari Duke University mengestimasikan
bahwa Matahari mungkin telah berkontribusi terhadap 45-50% peningkatan
temperatur rata-rata global selama periode 1900-2000, dan sekitar 25-35% antara
tahun 1980 dan 2000. Stott dan rekannya mengemukakan
bahwa model iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat estimasi berlebihan
terhadap efek gas-gas rumah kaca dibandingkan dengan pengaruh Matahari; mereka
juga mengemukakan bahwa efek pendinginan dari debu vulkanik dan aerosol sulfat
juga telah dipandang remeh. Walaupun demikian,
mereka menyimpulkan bahwa bahkan dengan meningkatkan sensitivitas iklim
terhadap pengaruh Matahari sekalipun, sebagian besar pemanasan yang terjadi
pada dekade-dekade terakhir ini disebabkan oleh gas-gas rumah kaca.
Pada
tahun 2006, sebuah tim ilmuan dari Amerika
Serikat, Jerman dan Swiss menyatakan bahwa
mereka tidak menemukan adanya peningkatan tingkat "keterangan" dari
Matahari pada seribu tahun terakhir ini. Siklus Matahari hanya memberi
peningkatan kecil sekitar 0,07% dalam tingkat "keterangannya" selama
30 tahun terakhir. Efek ini terlalu kecil untuk berkontribusi terhadap pemansan
global. Sebuah penelitian oleh Lockwood dan
Fröhlich menemukan bahwa tidak ada hubungan antara pemanasan global dengan
variasi Matahari sejak tahun 1985, baik melalui variasi dari output Matahari
maupun variasi dalam sinar kosmis.
4. Mengukur
pemanasan global
Hasil
pengukuran konsentrasi CO2 di Mauna Loa
Pada awal 1896, para ilmuan beranggapan bahwa membakar
bahan bakar fosil akan mengubah komposisi atmosfer dan dapat meningkatkan
temperatur rata-rata global. Hipotesis ini dikonfirmasi
tahun 1957 ketika para peneliti yang bekerja pada program penelitian global
yaitu International Geophysical Year, mengambil sampel atmosfer dari puncak
gunung Mauna Loa di Hawai.
Hasil
pengukurannya menunjukkan terjadi peningkatan konsentrasi karbon dioksida di
atmosfer. Setelah itu, komposisi dari atmosfer terus diukur dengan cermat.
Data-data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa memang terjadi peningkatan
konsentrasi dari gas-gas rumah kaca di atmosfer.
Para
ilmuan juga telah lama menduga bahwa iklim global semakin
menghangat, tetapi mereka tidak mampu memberikan bukti-bukti yang tepat.
Temperatur terus bervariasi dari waktu ke waktu dan dari lokasi yang satu ke
lokasi lainnya. Perlu bertahun-tahun pengamatan iklim untuk memperoleh
data-data yang menunjukkan suatu kecenderungan (trend) yang jelas.
Catatan pada akhir 1980-an agak memperlihatkan kecenderungan penghangatan ini,
akan tetapi data statistik ini hanya sedikit dan tidak dapat dipercaya.
Stasiun cuaca pada awalnya, terletak dekat dengan
daerah perkotaan sehingga pengukuran temperatur akan dipengaruhi oleh panas
yang dipancarkan oleh bangunan dan kendaraan dan juga panas yang disimpan oleh
material bangunan dan jalan. Sejak 1957, data-data diperoleh dari stasiun cuaca
yang terpercaya (terletak jauh dari perkotaan), serta dari satelit. Data-data ini memberikan
pengukuran yang lebih akurat, terutama pada 70 persen permukaan planet yang
tertutup lautan. Data-data yang lebih akurat ini menunjukkan bahwa
kecenderungan menghangatnya permukaan Bumi benar-benar terjadi. Jika dilihat
pada akhir abad ke-20, tercatat bahwa sepuluh tahun terhangat selama seratus
tahun terakhir terjadi setelah tahun 1980, dan tiga tahun terpanas terjadi
setelah tahun 1990, dengan 1998 menjadi yang paling panas.
Dalam
laporan yang dikeluarkannya tahun 2001, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa
temperatur udara global telah meningkat 0,6 derajat Celsius (1 derajat
Fahrenheit) sejak 1861. Panel setuju bahwa pemanasan tersebut terutama
disebabkan oleh aktivitas manusia yang menambah gas-gas rumah kaca ke atmosfer.
IPCC memprediksi peningkatan temperatur rata-rata global akan meningkat 1.1
hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.
IPCC
panel juga memperingatkan, bahwa meskipun konsentrasi gas di atmosfer tidak
bertambah lagi sejak tahun 2100, iklim tetap terus menghangat selama periode
tertentu akibat emisi yang telah dilepaskan sebelumnya. karbon dioksida akan
tetap berada di atmosfer selama seratus tahun atau lebih sebelum alam mampu
menyerapnya kembali.
Jika
emisi gas rumah kaca terus meningkat, para ahli memprediksi, konsentrasi
karbondioksioda di atmosfer dapat meningkat hingga tiga kali lipat pada awal
abad ke-22 bila dibandingkan masa sebelum era industri. Akibatnya, akan terjadi
perubahan iklim secara dramatis. Walaupun sebenarnya peristiwa perubahan iklim
ini telah terjadi beberapa kali sepanjang sejarah Bumi, manusia akan menghadapi
masalah ini dengan risiko populasi yang sangat besar.
5. Model iklim
Perhitungan pemanasan global pada tahun 2001 dari beberapa
model iklim berdasarkan scenario SRES A2, yang mengasumsikan tidak ada tindakan yang dilakukan
untuk mengurangi emisi.
Para
ilmuan telah mempelajari pemanasan global berdasarkan model-model computer
berdasarkan prinsip-prinsip dasar dinamikan fluida, transfer radiasi, dan
proses-proses lainya, dengan beberapa penyederhanaan disebabkan keterbatasan
kemampuan komputer. Model-model ini memprediksikan bahwa penambahan gas-gas
rumah kaca berefek pada iklim yang lebih hangat.Walaupun
digunakan asumsi-asumsi yang sama terhadap konsentrasi gas rumah kaca di masa depan, sensitivitas iklimnya masih
akan berada pada suatu rentang tertentu.
Dengan memasukkan
unsur-unsur ketidakpastian terhadap konsentrasi gas rumah kaca dan pemodelan
iklim, IPCC memperkirakan pemanasan sekitar 1.1 °C hingga 6.4 °C
(2.0 °F hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100. Model-model iklim juga digunakan untuk
menyelidiki penyebab-penyebab perubahan iklim yang terjadi saat ini dengan
membandingkan perubahan yang teramati dengan hasil prediksi model terhadap
berbagai penyebab, baik alami maupun aktivitas manusia.
Model iklim saat ini
menghasilkan kemiripan yang cukup baik dengan perubahan temperature global
hasil pengamatan selama seratus tahun terakhir, tetapi tidak mensimulasi semua
aspek dari iklim. Model-model ini tidak secara
pasti menyatakan bahwa pemanasan yang terjadi antara tahun 1910 hingga 1945
disebabkan oleh proses alami atau aktivitas manusia; akan tetapi; mereka
menunjukkan bahwa pemanasan sejak tahun 1975 didominasi oleh emisi gas-gas yang
dihasilkan manusia.
Sebagian besar
model-model iklim, ketika menghitung iklim di masa depan, dilakukan berdasarkan
skenario-skenario gas rumah kaca, biasanya dari Laporan Khusus terhadap
Skenario Emisi (Special Report on Emissions Scenarios /
SRES) IPCC. Yang jarang dilakukan, model menghitung dengan menambahkan simulasi
terhadap siklus karbon; yang biasanya
menghasilkan umpan balik yang positif, walaupun responnya masih belum pasti
(untuk skenario A2 SRES, respon bervariasi antara penambahan 20 dan 200 ppm
CO2). Beberapa studi-studi juga menunjukkan beberapa umpan balik positif.
Pengaruh awan juga
merupakan salah satu sumber yang menimbulkan ketidakpastian terhadap
model-model yang dihasilkan saat ini, walaupun sekarang telah ada kemajuan
dalam menyelesaikan masalah ini. Saat ini juga terjadi
diskusi-diskusi yang masih berlanjut mengenai apakah model-model iklim
mengesampingkan efek-efek umpan balik dan tak langsung dari variasi
Matahari.
6. Dampak
pemanasan global
Para ilmuan menggunakan model komputer dari temperatur,
pola presipitasi, dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari pemanasan global.
Berdasarkan model tersebut, para ilmuan telah membuat beberapa prakiraan
mengenai dampak pemanasan global terhadap cuaca,
tinggi permukaan air laut, pantai, pertanian,
kehidupan hewan liar dan kesehatan manusia.
6.1 Iklim
Mulai Tidak Stabil
Para
ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari
belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari
daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan
daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es
yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya
mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan
di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan
lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area.
Temperatur pada musim dingin dan malam hari
akan cenderung untuk meningkat.
Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih
banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin
apakah kelembaban tersebut malah akan
meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan
karena uap air merupakan gas
rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada
atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang
lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa
luar, dimana hal ini akan
menurunkan proses pemanasan (lihat siklus
air). Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan,
secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan.
(Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus
tahun terakhir ini). Badai akan menjadi lebih
sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa
daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih
kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane)
yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar.
Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin
mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.
6.2 Peningkatan
permukaan laut
Perubahan tinggi rata-rata permukaan laut diukur dari
daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi.
Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga
akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi
permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama
sekitar Greenland, yang
lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah
meningkat 10 – 25 cm (4 - 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan
IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 – 88 cm (4 - 35 inchi) pada
abad ke-21.
Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi
kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan
6 persen daerah Belanda, 17,5
persen daerah Bangladesh, dan
banyak pulau-pulau. Erosi dari
tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai
muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara
kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah
pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan
evakuasi dari daerah pantai.
Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat
mempengaruhi ekosistem pantai. Kenaikan 50 cm (20 inchi) akan
menenggelamkan separuh dari rawa-rawa pantai di Amerika Serikat.
Rawa-rawa baru juga akan terbentuk, tetapi tidak di area perkotaan dan daerah
yang sudah dibangun.Kenaikan muka laut ini akan menutupi sebagian besar
dari Florida Everglades.
6.3 Suhu global cenderung meningkat
Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan
menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya
tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh,
mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih
lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di
beberapa bagian Afrika mungkin
tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari
gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim
dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak
bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan
serangga dan penyakit yang lebih hebat.
6.4 Gangguan ekologis
Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit
menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai
manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub
atau ke atas pegunungan.Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari
daerah baru karena habitat lamanya
menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi
perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang
terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati.
Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub
mungkin juga
akan musnah.
7. Dampak
sosial dan politik
7.1 Perubahan
cuaca dan lautan
dapat
mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit yang berhubungan dengan panas (heat stroke) dan kematian. Temperatur yang panas juga
dapat menyebabkan gagal panen sehingga akan muncul kelaparan dan malnutrisi. Perubahan cuaca yang
ekstrim dan peningkatan permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub utara
dapat menyebabkan penyakit - penyakit yang berhubungan dengan bencana alam
(banjir, badai dan kebakaran) dan kematian akibat trauma. Timbulnya bencana
alam biasanya disertai dengan perpindahan penduduk ke tempat-tempat pengungsian dimana sering muncul penyakit,
seperti : diare, malnutrisi, defisiensi mikronutrien, trauma psikologis, penyakit kulit, dan
lain-lain.
7.2 Pergeseran
ekosistem
dapat memberi dampak pada penyebaran penyakit melalui air
(Water borne diseases) maupun penyebaran penyakit melalui vektor (vector - borne diseases).
Seperti meningkatnya kejadian Demam Berdarah karena munculnya ruang (ekosistem) baru untuk nyamuk ini
berkembang biak. Dengan adanya perubahan iklim ini maka ada beberapa spesies
vektor penyakit (Aedes Agipty), Virus, bakteri, plasmodium menjadi lebih
resisten terhadap obat tertentu yang targetnya adalah organisme tersebut.
Selain itu bisa diprediksi kan bahwa ada beberapa spesies yang secara alamiah
akan terseleksi ataupun punah dikarenakan perubahan ekosistem yang ekstrem ini.
hal ini juga akan berdampak perubahan iklim (Climate change) yang bisa
berdampak kepada peningkatan kasus penyakit tertentu seperti ISPA (kemarau
panjang / kebakaran hutan, DBD Kaitan dengan musim hujan tidak menentu).
Gradasi Lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran limbah
pada sungai juga berkontribusi pada waterborne diseases dan vector-borne
disease. Ditambah pula dengan polusi udara hasil emisi gas-gas pabrik yang
tidak terkontrol selanjutnya akan berkontribusi terhadap penyakit-penyakit
saluran pernafasan seperti asma, alergi, coccidiodomycosis, penyakit jantung dan paru kronis, dan
lain-lain.
8. Pengendalian pemanasan global
Konsumsi total bahan
bakar fosil di dunia meningkat sebesar 1 persen per-tahun.
Langkah-langkah yang dilakukan atau yang sedang diskusikan saat ini tidak ada
yang dapat mencegah pemanasan global di masa depan. Tantangan yang ada saat ini
adalah mengatasi efek yang timbul sambil melakukan langkah-langkah untuk
mencegah semakin berubahnya iklim di masa depan.
Kerusakan yang parah dapat di atasi dengan berbagai cara.
Daerah pantai dapat dilindungi dengan dinding dan penghalang untuk mencegah
masuknya air laut. Cara lainnya, pemerintah dapat membantu populasi di pantai
untuk pindah ke daerah yang lebih tinggi. Beberapa negara, seperti Amerika
Serikat, dapat menyelamatkan tumbuhan dan hewan dengan tetap menjaga koridor
(jalur) habitatnya, mengosongkan tanah yang belum dibangun dari selatan ke
utara. Spesies-spesies dapat secara perlahan-lahan berpindah sepanjang koridor
ini untuk menuju ke habitat yang lebih dingin.
Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin
bertambahnya gas rumah kaca. Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke
atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbon-nya di tempat lain.
Cara ini disebut carbon sequestration (menghilangkan karbon). Kedua,
mengurangi produksi gas rumah kaca.
8.1 Menghilangkan karbon
Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbon
dioksida di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih
banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap
karbon dioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan
menyimpan karbon dalam kayunya. Di seluruh dunia,
tingkat perambahan hutan telah mencapai
level yang mengkhawatirkan. Di banyak area, tanaman yang tumbuh kembali sedikit
sekali karena tanah kehilangan kesuburannya ketika diubah untuk kegunaan yang
lain, seperti untuk lahan pertanian atau pembangunan rumah tinggal. Langkah
untuk mengatasi hal ini adalah dengan penghutanan kembali yang berperan dalam
mengurangi semakin bertambahnya gas rumah kaca.
Gas karbon dioksida juga dapat dihilangkan secara
langsung. Caranya dengan menyuntikkan (menginjeksikan) gas tersebut ke
sumur-sumur minyak untuk mendorong agar minyak bumi keluar ke permukaan
(lihat Enhanced Oil Recovery).
Injeksi juga bisa dilakukan untuk mengisolasi gas ini di bawah tanah seperti
dalam sumur minyak, lapisan batubara atau aquifer. Hal ini telah
dilakukan di salah satu anjungan pengeboran lepas pantai Norwegia, dimana karbon
dioksida yang terbawa ke permukaan bersama gas
alam ditangkap dan diinjeksikan kembali ke aquifer sehingga
tidak dapat kembali ke permukaan.
Salah satu sumber penyumbang karbon dioksida adalah
pembakaran bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil mulai meningkat
pesat sejak revolusi industri pada
abad ke-18. Pada saat itu, batu
bara menjadi sumber energi dominan untuk kemudian digantikan
oleh minyak bumi pada pertengahan
abad ke-19. Pada abad ke-20, energi gas mulai biasa digunakan di dunia sebagai
sumber energi. Perubahan tren penggunaan bahan bakar fosil ini sebenarnya secara
tidak langsung telah mengurangi jumlah karbon dioksida yang dilepas ke udara,
karena gas melepaskan karbon dioksida lebih sedikit bila dibandingkan dengan
minyak apalagi bila dibandingkan dengan batubara. Walaupun demikian, penggunaan
energi terbaharui dan energi
nuklir lebih mengurangi pelepasan karbon dioksida ke
udara. Energi nuklir, walaupun kontroversial karena alasan keselamatan dan
limbahnya yang berbahaya, bahkan tidak melepas karbon dioksida sama sekali.
8.2 Persetujuan internasional
Kerjasama
internasional diperlukan untuk mensukseskan pengurangan gas-gas rumah kaca. Di
tahun 1992, pada Earth Summit di Rio
de Janeiro, Brazil, 150 negara berikrar
untuk menghadapi masalah gas rumah kaca dan setuju untuk menterjemahkan maksud
ini dalam suatu perjanjian yang mengikat. Pada tahun 1997 di Jepang, 160
negara merumuskan persetujuan yang lebih kuat yang dikenal dengan Protokol
Kyoto.
Perjanjian ini, yang belum diimplementasikan, menyerukan
kepada 38 negara-negara industri yang memegang persentase paling besar dalam
melepaskan gas-gas rumah kaca untuk memotong emisi mereka ke tingkat 5 persen
di bawah emisi tahun 1990. Pengurangan ini harus dapat dicapai paling lambat
tahun 2012. Pada mulanya, Amerika
Serikat mengajukan diri untuk melakukan pemotongan yang
lebih ambisius, menjanjikan pengurangan emisi hingga 7 persen di bawah tingkat
1990; Uni Eropa, yang menginginkan
perjanjian yang lebih keras, berkomitmen 8 persen; dan Jepang 6 persen. Sisa
122 negara lainnya, sebagian besar negara
berkembang, tidak diminta untuk berkomitmen dalam pengurangan emisi
gas.
Akan tetapi, pada tahun 2001,Presiden Amerika Serikat yang baru
terpilih, George
W. Bush mengumumkan bahwa perjanjian untuk
pengurangan karbon dioksida tersebut menelan biaya yang sangat besar. Ia juga
menyangkal dengan menyatakan bahwa negara-negara berkembang tidak dibebani
dengan persyaratan pengurangan karbon dioksida ini. Kyoto Protokol tidak
berpengaruh apa-apa bila negara-negara industri yang bertanggung jawab
menyumbang 55 persen dari emisi gas rumah kaca pada tahun 1990 tidak
meratifikasinya. Persyaratan itu berhasil dipenuhi ketika tahun 2004, Presiden Rusia Vladimir
Putin meratifikasi perjanjian ini, memberikan jalan untuk
berlakunya perjanjian ini mulai 16
Februari 2005.
Banyak orang mengkritik Protokol Kyoto terlalu lemah.
Bahkan jika perjanjian ini dilaksanakan segera, ia hanya akan sedikit
mengurangi bertambahnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer. Suatu
tindakan yang keras akan diperlukan nanti, terutama karena negara-negara
berkembang yang dikecualikan dari perjanjian ini akan menghasilkan separuh dari
emisi gas rumah kaca pada 2035. Penentang protokol ini memiliki posisi yang
sangat kuat. Penolakan terhadap perjanjian ini di Amerika
Serikat terutama dikemukakan oleh industri minyak, industri
batubara dan perusahaan-perusahaan lainnya yang produksinya tergantung pada
bahan bakar fosil. Para penentang ini mengklaim bahwa biaya ekonomi yang
diperlukan untuk melaksanakan Protokol Kyoto dapat menjapai 300 milyar dollar
AS, terutama disebabkan oleh biaya energi. Sebaliknya pendukung Protokol Kyoto
percaya bahwa biaya yang diperlukan hanya sebesar 88 milyar dollar AS dan dapat
lebih kurang lagi serta dikembalikan dalam bentuk penghematan uang setelah
mengubah ke peralatan, kendaraan, dan proses industri yang lebih effisien.
Pada suatu negara dengan kebijakan lingkungan yang ketat,
ekonominya dapat terus tumbuh walaupun berbagai macam polusi telah dikurangi.
Akan tetapi membatasi emisi karbon dioksida terbukti sulit dilakukan. Sebagai
contoh, Belanda, negara industrialis
besar yang juga pelopor lingkungan, telah berhasil mengatasi berbagai macam
polusi tetapi gagal untuk memenuhi targetnya dalam mengurangi produksi karbon
dioksida.
Setelah tahun 1997, para perwakilan dari penandatangan
Protokol Kyoto bertemu secara reguler untuk menegoisasikan isu-isu yang belum
terselesaikan seperti peraturan, metode dan pinalti yang wajib diterapkan pada
setiap negara untuk memperlambat emisi gas rumah kaca. Para negoisator
merancang sistem dimana suatu negara yang
memiliki program pembersihan yang sukses dapat mengambil keuntungan dengan
menjual hak polusi yang tidak digunakan ke negara lain. Sistem ini
disebut perdagangan karbon.
Sebagai contoh, negara yang sulit meningkatkan lagi hasilnya, seperti Belanda,
dapat membeli kredit polusi di pasar, yang dapat diperoleh dengan biaya yang
lebih rendah. Rusia, merupakan negara yang memperoleh keuntungan bila sistem
ini diterapkan. Pada tahun 1990, ekonomi Rusia sangat payah dan emisi gas
rumah kacanya sangat tinggi. Karena kemudian Rusia berhasil memotong emisinya
lebih dari 5 persen di bawah tingkat 1990, ia berada dalam posisi untuk menjual
kredit emisi ke negara-negara industri lainnya, terutama mereka yang ada di Uni
Eropa.
B.
Perubahan Iklim Akibat Pemanasan Global
1.
Perubahan Iklim
Permasalahan yang sering diperdebatkan, dan menjadi isu dalam abad
ke 21 ini adalah dampak perubahan iklim, variabilitas iklim yang terjadi akibat
banyaknya kegiatan manusia, dan berpengaruh kehidupan manusia .(Watson R.T.,et
al.1998).
Secara ilmiah kejadian fenomena alam diduga karena pemanasan
global, dan sampai menjadikan suatu pembahasan serius di dunia, bahkan beberapa
ahli di dunia, yang ingin mentargetkan kenaikan
suhu bumi maksimal 200C
( Moore F.C, 2009). Kondisi adanya pemanasan global, mengakibatkan area luas di
Greenland Ice Sheert, salju meleleh, sehingga berakibat daerah Gurun
Es Antarika Barat, West Antartic Ice Sheet, memperoleh resiko yang
cukup berarti, dengan akibat terjadi kerusakan ekosistem global dan juga
terhadap siklus hidrologi. (Bierbaum, R.M,et al.2007). Pemanasan
Global, mempunyai konsekuensi terjadinya variabilitas iklim, dengan
ditandai oleh perubahan suhu udara, dan curah hujan, serta limpasan air (Markandya
A and Aline Chiabia, 2009). Kondisi tersebut masih berkombinasi dengan
adanya pencemaran udara, pencemaran air, sehingga mempunyai dampak yang
cukup berat bagi kehidupan, mulai peningkatan permukaan laut dan banjir
dikawasan hunian pantai, seperti yang terjadi di Bangladesh, dengan hilangnya
luas lahan 20 %, dan berkurangnya lahan produktif (Watson and McMichael, 2001).
Perubahan iklim selain disebabkan oleh beban gas CO2, CH4 dan NOx
juga ditambah oleh gas emisi yang membuat lebih panas, yaitu gas karbon hitam
dan juga gas ozone yang berada di lapisan trophosphere, yaitu
lapisan udara 0 – 12 km diatas permukaan daratan bumi (Masters G M, 1974).
Karbon hitam adalah partikel yang ada akibat pembakaran tidak sempurna, seperti
bahan kayu, pembakaran dari mesin disel dan pembakaran biomasa, dengan bahan
bakar minyak dari fosil, mempunyai peran penting dalam menambah pemanasan bumi,
dan juga radiasi bumi (Ramanathan V, 2008; IPCC, 2004).
2.
Pengaruh variabilitas iklim terhadap water-borne diseases.
Water-Borne Diseases, adalah penyakit pada individu atau kelompok penduduk
yang peka, disebabkan oleh kuman patogen, yang berada di media air, dengan pola
penularan melalui saluran pencernaan, pernapasan, absorbsi kulit dari organisme
mikroba, ataupun algae yang beracun, semua tersebut akibat kualitas air, karena kondisi hygiene
dan sanitasi sebagai peran utama tidak dijaga (Frost F.J. et al, 1996) Variabilitas
iklim disuatu daerah mengakibatkan adanya variasi suhu udara, kelembaban, curah
hujan, serta limpasan air, mempunyai potensi atas perkembangan kehidupan
microbial agents, dengan lebih dari 100 tipe bacteria pathogen,
virus, dan protozoa, khususnya dalam air kotor ( Feachem R,et al.,1981;Bitton
G.,et al.,1986.; Mara D and Feachem RGA, 1999). Paparan waterborne
diseases, juga foodborne diseases dapat terjadi melalui air minum,
terutama yang tercemar kotoran manusia, juga ikan laut (baik adanya toksin,
mikroba, atau karena buangan aiur kotor),atau dari sumber air olahan, baik dari
bahan baku air irigasi ataupun air yang tercemar.(Rose J.B.,etal.2001).
Khusus untuk waterborne diseases, adanya pengaruh variabilitas iklim
menyebabkan limpasan air hujan, beban air kotor kota, rembesan dari septictank,
sistem olahan air kotor yang terkombinasi antara saluran irigasi
dan saluran air hujan menjadi berat. Di sisi lain gelombang laut
dapat membawa sampah, termasuk hewan mati, kotoran manusia dan
juga air kotor yang tak terolah (Craun GF, 1991).
3. Sumber kontaminasi dan Pola alur paparan.
Banyak sekali alur masuknya sumber pencemaran ke dalam media air,
dengan adanya variabilitas iklim, sehingga berpengaruh kepada manusia yang
peka, terhadap pathogen yang berada di media air, dengan peran utama kondisi
higiene dan sanitasi, baik melalui inhalasi, absorbsi kulit, toksin di algae
(ganggang). Sebagai contoh, agent pathogen¸ masuk melalui air minum
yang tercemar, memakan makanan ikan laut yang diternak di air yang tercemar,
maupun makan ikan dari air irigasi, maupun air tercemar yang sudah diproses
(Frost F.J and Craun G.F, 1996). Masuknya sumber pencemar tersebut, juga bisa
melalui kontak dengan air tercemar dari usaha komersil, seperti dalam usaha
tempat pancing, atau tempat rekreasi, kolam renang (ASM, 1998). Kualitas air
sangat tergantung atas pengelolaan air dan tanah, baik dari bahan baku air yang
ada, maupun dari air laut yang secara langsung atau tidak langsung dipengaruhi
oleh titik masuknya zat pencemar, seperti industri, aktifitas kota, pertanian
(Craun GF, 1991). Beban ekologis air semakin berat oleh adanya variabilitas
iklim, selain berpengaruh terhadap kehidupan hewan liar, melimpahnya mikroba
secara alamiah, dan juga melimpahnya air laut karena system yang ada, sangat
mempengaruhi kesehatan manusia (NRC,1990; Epstein P.R.,etal.,1998). Kualitas
air sangat tergantung atas pengelolaan air dan tanah, baik dari bahan baku air
yang ada, maupun dari air laut yang secara langsung atau tidak langsung
dipengaruhi oleh titik masuknya zat pencemar, seperti industri, aktifitas kota,
pertanian (Craun GF, 1991). Beban ekologis air semakin berat oleh adanya variabelitas
iklim, selain berpengaruh terhadap kehidupan hewan liar, melimpahnya mikroba
secara alamiah, dan juga melimpahnya air laut karena system yang ada, sangat
mempengaruhi kesehatan manusia (NRC, 1990; Epstein P.R.,etal.,1998).
4. Beberapa gangguan kesehatan akibat waterborne
diseases
Ada kekhususan serta berbagai variabilitasnya terkait beberapa
resiko terganggunya kesehatan akibat bakteri pathogen dengan kejadian
Water-Borne Diseases dan Food-Borne Diseases, seperti dalam
tabel 1 ( NRC, 1999; Howard B.J.,et al.,1994 ). sebagai contoh pada
periode tahun 1993-1994 di Amerika Serikat penduduk yang sakit akibat minum air
yang terkontaminasi, dan sebagian besar terjadi di Milwaukee, Wisconsin (Ford
TE, 1999). Ditemukan, bahwa sebagian kejadian tersebut karena sejenis parasite
protozoa, yang disebut Cryptosporodium pavum. (Hoxie N.J.,etal.,1997).
Parasit Cryptosporodium ini kehidupannya dalam pencernaan mamalia
berkembang sangat banyak dalam bentuk kista/oocyst disebar melalui
kotoran/feces, dan bisanya karena bahan baku air minum terkontaminasi
oleh banjir atau limpasan hujan, sehingga sitem pengolahan air minum tak mampu
membunuh kista (MacKenzie W.R.,et al.,1994). Di dunia beberapa kejadian
luar biasa akibat parasite tersebut
banyak dilaporkan karena limpasan hujan dan banjir (Rose
JB.1997) Dalam tabel 1.berikut, beberapa resiko gangguan kesehatan akibat
berbagai pathogen dengan air dan makanan sebagai media penularan.Tabel
1.Beberapa resiko gangguan kesehatan akibat berbagai pathogen dengan air dan
makanan sebagai media penularan.

Salah satu
penyakit yang merupakan kombinasi
dari waterborne diseases dan food-borne diseases yang mempunyai
insidens tinggi dan hampir menyebar ke dunia, terutama di Negara dengan
kondisi sanitasi yang tidak memenuhi syarat, adalah penyakit kholera/cholera.
Pada air laut sering ditemui Vibrio bacteria, yang salah satu penyebab
penyakit kholera, dan sangat terkait dengan makanan sebagai medianya (Epstein
PR, 1993).Disamping hal tersebut terkorelasi dengan kholera adalah penderita
diare, walaupun penderita diare dapat disebabkan oleh berbagai penyebab,
namun kholera menimbulkan morbiditas dan mortalitas yang bermakna.
C.
Penyakit Kolera
1. Pengertian Kolera
Cholera, cholera, adalah penyakit dengan penyebab V. cholerae
pathogen dari serogrup selain O1 dan O139. Seperti halnya semua V. cholerae,
vibrio ini pertumbuhannya bertambah cepat pada lingkungan dengan NaCl 1%. V.
cholera strain non - O1 atau non-0139 jarang sekali memproduksi toksin
kolera atau membawa faktor-faktor kolonilisasi dari strain O1 dan O139 yang
dapat menimbulkan wabah. (Dep.Kes RI,2008). Vibrio cholerae sebagai
penyebab penyakit cholera merupakan pathogen dari air pantai, yang menyebabkan
terjadinya banyak kematian terutama di daerah yang kondisi sanitasi yang jelek
dan daerah yang relatif penduduknya tertinggal atau miskin ( Mourino P.R.R.et
al.2003). Di sisi lain peran Vibrio cholerae sangat bermakna untuk
menyebar karena perubahan ekosistem, terutama oleh perubahan iklim (Colwell, R.
R., and J. A. Patz. 1997, Epstein, P. R.
1995). Keterkaitan dengan perubahan iklim banyak peneliti menyatakan, bahwa
keberadaan Vibrio cholera sangat didukung oleh kehidupan zooplankton di
laut, yaitu pada pelagic plankton, khususnya pada copepod
zooplankters, dan pada daerah wabah
sangat berhubungan dengan berkembangnya phytoplankton dimaksud
(Lobitz, B.,2000). Keberadaan Vibrio cholerae di air laut menjadi lebih
berkembang pesat oleh adanya limpasan air, akibat banjir, yang lebih disebabkan
oleh perubahan iklim, dan menjadikan air banyak mengandung organic yang
terlarut, dissolved ox gen (Mourino P.R.R.et al.2003) .
Di Indonesia, penderita kholera, hampir merata di beberapa
Provinsi, namun pada awal April sampai dengan awal Agustus 2008 di Prponsi
Papua, menelan korban 105 jiwa dari penderita diare-kolera, yang seabgian besar
dari kabupaten Nabire dan Kabupaten Panilai (Ditjen PP&PL Depkes RI, 2008).
Hasil riset kesehatan dasar Departemen Kesehatan RI, tahun 2008, bahwa kematian
bayi tahun 2007 terbanyak adalah
disebabkan oleh diare yatu 31,4 % (Balibangkes, 2008). Secara umum diare
dimaksud penyebabnya berbagai kuman, diantaranya kolera, namun yang pasti didominasi
oleh golongan water borne diseases. Kejadian penyakit kolera di
dunia yang terkait oleh variabilitas iklim dan konsekuensi yang timbul,
misalnya badai, banjir dan yang lain semakin tahun meningkat. Secara empiris
kejadian peningkatan penyakit kolera berkorelasi dengan adanya variabilitas
iklim pertahunnya (Hartman DL, 2002). Sebagai contoh adanya kejadian ENSO (El Niήo/Sothern
Oscillation) yang berakibat kenaikan suhu menyebabkan di Peru selama tahun 1997
/1998 penderita diare yang rawat inap meningkat 2 kali lipat (Rose JB, et
al, 2000).
2. Upaya yang diperlukan
Adanya iklim dengan variabilitasnya di sepanjang tahun, harus
diselesaikan secara global dan dengan pendekatan holistik. Upaya berikut adalah
spesifik untuk pencegahan penyakit waterborne diseases, khususnya akibat
adanya variabilitas iklim, yaitu :
2.1
Peningkatan pengawasan dalam pengolahan air minum. Optimalisasi
upaya adalah dengan pemantauan kualitas fisik instalasi pengolahan, dan
memantau kualitas air dari produksi sampai konsumen. Disisi lain di Negara yang
sudah sangat memperhatikan upaya ini adalah selalu memantau jenis
mikroorganisme penyebab waterborne diseases. Di Indonesia, pemeriksaan
bakteri E.Coli seharusnya
dilakukan selain pada air hasil olahan perusahaan air minum, tetapi juga
secara rutin sampling di konsumen rumah.
2.2
Peningkatan Pengelolaan Pengolahan Air kotor Air kotor kota,
biasanya berupa campuran antara air kotor dari domestik dan air hujan, dalam
kondisi tersebut, terkait dengan variabilitas iklim dengan curah hujan juga
bervariasi, dengan curah hujan yang relative meningkat, maka efektifitas
tampungan saluran sangat diperlukan pengawasan. Permasalahannya adalah
distribusian air kotor yang semakin meluas, bila sampai melimpas ke permukiman,
mempunyai potensi penularan mkrorganisme waterborne diseases, karena
kemapuan hidup mikroorgaisme tersebut akibat adanya salinitas dari hujan (Pruss
A, 1998)
2.3
Perlindungan terhadap sumber air Pengertian sumber air, selain
mata air, juga air untuk rekreasi, yang harus dilindungi dari limpasan bahan
kimia, ataupun dilindungi dengan tumbuhan kuat dan besar. Hal tersebut perlu
dilakukan, karena setiap tahun, khususnya bila ada gelombang laut, badai, maka
rata rata meluapnya air, sehingga
membawa beban pencemaran di kota sampai dengan 60 % (Jahncke JL.1996).
2.4
Perlindungan terhadap makanan Perlindungan makanan, disebabkan makanan
sangat erat terkait dengan peran air, sehingga peran pencemaran air cukup
besar, termasuk perkembangan kuman oleh kondisi cuaca dan iklim, termasuk juga
kondisi pembuangan air kotor ( Rose JB, et al.2001)
2.5
Tindakan Survailans Diperlukan suatu grand design atau
disain besar dalam upaya peningkatan survailans epidemiologis, dengan menekankan
laporan angka kematian dan kesakitan penyakit terkait dengan
wtaerborne-diseases melelui pendekatan yang komprehensip antar sektor.
2.6
Peningkatan penyuluhan kesehatan masyarakat Upaya penyuluhan tentang
penyakit waterborne-diseases diperlukan peningkatan baik secara kuantitas dan kualitas.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Variabilitas iklim akibat pemanasan global, selain mempunyai konsekuensi
meningkatnya bencana alam, seperti badai, banjir, kekeringan, peningktan suhu
bumi, akibat rekasi rumah kaca, maka juga berdampak terhadap gangguan kesehatan
masyarakat, terutama terhadap beberpa penyakit. Beberapa penyakit adalah, waterborne-diseases,
foodborne-diseases, vectorborne-diseases, dan khusus untuk waterborne diseases,penyakit
kolera, mempunyai potensi menimbulkan kejadian luar biasa di beberapa negara,
termasuk di Indonesia, disebabkan oleh dukungan kondisi sanitasi yang
belum memadai. Disisi lain, penyakit kolera memiliki dua dimensi sebagai
waterbirne diseases dan juga terkait dengan foodborne-diseases.
Untuk solusi masalah diperlukan upaya strategis dalam program kesehatan, dengan
prioritas peningkatan upaya surveilans epidemiologis.
2. Pemanasan global
atau Global Warming adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata
atmosfer, laut, dan
daratan Bumi. Meningkatnya suhu
global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti
naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang
ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi.
Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian,
hilangnya gletser, dan punahnya berbagai
jenis hewan. Penyebab Pemanasan global
diantaranya adalah : efek rumah kaca, dan efek umpan balik.
3.
Dampak pemanasan global
adalah iklim mulai tidak stabil, peningkatan permukaan air laut, suhu global
cenderung meningkat, gangguan ekologis, dampak sosial dan politik. Ada
dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca.
Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas
tersebut atau komponen karbon-nya di tempat lain. Cara ini disebut carbón sequestration (menghilangkan
karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah kaca.
4.
Faktor pemicu terjadinya
perubahan sistem cuaca adalah pemanasan global atau disebut juga global
warming. Pengaruh akibat perubahan sistem cuaca ekstrim diantaranya: 1)
Perubahan Cuaca Berpotensi Munculkan Migren, 2) Perubahan Cuaca Pemicu Mimisan,
3) La Nina, 4) El Nino
DAFTAR
PUSTAKA
American Society for Microbiology(ASM), Office of
Public Affairs. Microbial Pollutants in Our Nation's Water.1998: Environmental
and Public Health Issues.Washington, DC:American Society for Microbiology.
Badan Penelitian
dan Pengembangan Kesehatan Dep.Kes RI. 2008 Simposium Nasional IV Jakarta.
Bierbaum,
R.M.;Holdern,J.P.;MacCracken, M.C; Moss, R.H.;Raven, P.H.2007.Confronting
Climate Change: Avoiding the Unmanageable and Managing the Unvoidable.Uniuted
Nation Foundation :Washington,DC,USA.
Craun GF. 1991 Waterborne Diseases in the
United States. Boca Raton: CRC Press.
Departemen Kesehatan RI. Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
2008.Pusat Komunikasi Publik Depkes RI.
Feachem R, Garelick H, Slade J.1981 Enteroviruses in the environment. Trop Dis
Bull 78:185-230 .
Hoxie NJ, Davis
JP, Vergeront JM, Nashold RD, Blair KA.
1997 Cryptosporidiosis-associated mortality following a massive waterborne outbreak in Milwaukee, Wisconsin. Am
J Public Health 87:2032-2035
http//:www. Akibat
Pemanasan Global_Prana Indonesia.htm (diakses 26 November 2013.
http//:www. Alam
Sekitar Pemanasan Global.htm (diakses 26 November 2013).
http//:www. Apa
itu Pemanasan Global.htm (diakses 29 November 2013).
http//:www. Dampak
Pemanasan global Terhadap kesehatan_The Indonesian Public Health Portal.htm (diakses
29 November 2013)
http//:www. Gambar
Penyebab Dan Dampak Pemanasan Global_Earth Global Warming Pictures.htm (diakses
29 November 2013).
http//:www. Global
Warming - Pemanasan Global.htm (diakses 1 Desember 2013).
http//:www. Karya
Tulis Ilmiah (KTI) Pemanasan Global.htm (diakses 1 Desember 2013).
http//:www. Makalah
Dampak Pemanasan Global_Prabowo Area.htm (diakses 1 Desember 2013).
http//:www. My
Favorite Blog Iad Pemanasan Global.htmhtm (diakses 4 Desember 2013).
http//:www. Pengertian
dan cara mengatasi global warming (pemanasan global) _ MIUNG.COM.htm (diakses 4
Desember 2013).
http//:www. Pemanasan
Global (Global Warming) dan Dampaknya_Sumber Daya Alam_seluruh-halaman.htm (diakses
4 Desember 2013).
http//:www. Penyebab
Pemanasan Global Pada Bumi.htm (diakses 26 November 2013).
http//:www. Several.htm
(diakses 4 Desember 2013).
Intergovermental Panel on Climate Change.2004.Climate Change 2007: The Physical Science
Basis; Cambride University POress:New York,N.Y, USA.
Jahncke JL.1996.The application of the HACCP
concept tocontrol exotic shrimp viruses. In
:NMFS Workshop on Exotic Shrimp Viruses, New Orleans.
Mara D, Feachem RGA.1999 Water-and
excreta-related diseases: unitary environmental classification. Environ
Engineer 125:334-339 (1999).
Markandya A., Aline Chiabai.2009. Valuing Climate Change Impacts on Human Health :
Empirical Evidence From the Literature.Spain. Int.J.Environ.Res.Public Health,
6,759-786
Moore Frances C. 2009.Climate change and Air Pollution :Exploring the Synergies and Potential
for Mitigation in Industrializing Countries.St New Haven,USA, Sustainability,I,
pp.43-54
Pruss A.1998. Review of Epidemiological
studies on health efeects from exposure to recreational water. Int.J Epidemiolog
27 : 1-9.
Ramanathan V.;Carmichael,G.2008. Global and
Regional changes due to black carbon.Natural Geosci, 1,pp. 221 – 227
Rose JB.1997 Environmental ecology of Cryptosporidium and public health
implications. Annu Rev Public Health 18:135-161
Rose J.B.; Daeschener;Eastertling DR; Curriero FC; Lele S, Patz JA. 2000. Climate and
Waterborne Disease Outbreaks. J Am Water Works 92: 77-87
Rose J.B.; Paul R.Epstein; Erin K.Lipp; Benyamin H.Sherman; Susan M.Bernard; and Jonathan
A.Patz.2001. Climate variability and Change in the United States: Potential
Impacts on Water and Foodborne Diseseas Caused by Microbial AgentsEnvironmental
Health Perpectives, Volume 109,Supplement 2,May 2001;pp1-6.